Peta Dunia Baru

KepulauanDi akhir kalimat ini, hujan akan turun.

Di tepi hujan, layar perahu. Perlahan-lahan perahu itu tak menampak pulau-pulaiu;

Akan lenyap ke dalam kabut

Keyakinan akan persinggahan bagi seluruh bangsa.

Perang sepuluh tahun telah selesai.Rambut Helena, awan kelabu.Troya, lubang abu putih

Di tepi laut yang gerimis.

Gerimis menegang bagai senar-senar harpa.

Seseorang dengan mata berawan memungut hujan

Dan memetik larik pertama Odissey.

(Terj. Sapardi Djoko Damono)

Bulan Pagi

Masih dihantui oleh peredaran bulan

yang melaju dengan layar penuh

melewati gu7nung Morne Coco yang bagai lengkung punggung ikan paus,

aku megap oleh kecemerlangan cahayanya.

Ini awal Desember,

angin sepoi menyegarkan kulit bumi ini,

permukaan laut yang bagai kulit angsa,

dan kuperhatikan semburat biru

bayang-bayang gunung Morne Coco,

jam-matahari desember,

bahagia bahwa bumi masih berubah,

bahwa bulan purnama masih bisa membutakanku dengan dahinya

pagi-pagi cerah ini,

dan bahwa ranting-ranting putih mulai bersemi di jantungku.

(Terj. Sapardi Djoko Damono)

Biografi : Derek Walcott lahir tahun 1939 di St.Lucia, kepulauan karibia.Sebagai warga Karibia,yang di lahirkan dan di besarkan di negara kepulauan itu, dalam diri Walcott bertemu dua macam kebudayaan,yaitu kebudayaan Eropa (Lewat Kolonoalisme Spanyol,Perancis,Inggris dan Belanda) serta kebudayaan yang berasal dari bangsa kulit hitam Afrika (tradisi lisan dan bahasa Kreol). Halini mengendap dalam karya-karyanya,yang meliputi sejumlah besar kumpulan puisi dan drama. Karya Walcott yang terpenting, antara lain Dream on Monkey Mountain (drama, 1967),In A Fine Castle (drama, 1972), An Other Life (puisi, 1972), The Star-Apple Kingston (puisi,1980),Midsummer (puisi,1984) dan Omeros (puisi,1990). Walcott menerima hadiah Nobel untuk Kesusastraan tahun 1992.

 

Mengakrabkan Sastra Kepada Remaja

Posted: July 8, 2011 in Sastra

Oleh Pungkit Wijaya*

DALAM sebuah kesempatan saya harus melakukan penelitian ke sekolah menengah atas di daerah kota Bandung. Sejauh mana pemahaman serta interpretasi remaja sekolah menengah atas memahami puisi seorang penyair Amerika, Emily Dickinsion. Dan alhasil mereka pun kurang mengerti untuk membaca puisi tersebut. Meskipun berlandaskan dari tugas mata kuliah poetry (puisi) dari seorang dosen, bagi saya penelitian tersebut sangat berharga dan bermanfaat.

Maka dari itu setelah saya menyimpulkan sedikit. Setelah saya mengajukan questioener tentang kesukaan mereka terhadap puisi dan umumnya sastra (Cerpen, Drama dan Novel) tentang karya-karya sastra baik lokal, nasional maupun internasional. memang mereka kurang menyukai dan berminat terhadap karya sastra baik puisi, cerpen, drama dan Novel yang “berat” apalagi yang berbahasa inggris, di sebabkan kurangnya pengenalan dan bahan bacaan untuk karya-karya sastra.

Oleh karena itu saya sebagai mahasiswa sastra merasa miris melihat keadaan seperti itu. Dalam benak saya coba bertanya-tanya, kenapa keterbelakangan terhadap kesusastraan melanda remaja? Jikalau ada pendapat sastra memanusiakan manusia saya akan sepakat, namun jikalau keadaan seperti itu seakan mendesak bahwa harus mulai diperkenalkan kepada remaja. Dengan demikian image sastra itu “berat” sedikit-sedikit akan terkikis, bila hal ini diakrabkan sejak dini, teruatama pada anak dan remaja sekolah.

Konon sebagian orang menyebut sastra sebagai anak tiri- dalam artian selalu terpinggirkan. Semisal jurusan sastra di universitas hanya menjadi “Menara Gading” dan kurang peminat, lalu mereka suka mendengungkan apa sumbangsih sastra terhadapa masyarakat tentunya terhadap bangsa. Inilah selama ini yang tentu belum semua orang pahami terkait pentingnya membaca karya-kayra sastra, aspek kegunaan karya sastra khususnya di masyarakat umumnya untuk bangsa Negara.

Namun selain itu, ketika paradigma populeristik, konsumeristik dan globalisasi memang melanda masyarakat kita. Budaya instan pun terkadang tidak di sikapi secara kritis, kedatangan akses yang melimpah, informasi yang tumpah ruah tetap saja belum menuju arah yang significant.

Semisal kemunculan internet yang memanjakan remaja hanya membuat mereka “autis”. bukan membuat proses bahan bacaan menjadi bertambah, malah kemalasan yang terjadi karena libido kecanduan. Dalam permainan game oneline atau hanya membuka facebook berjam-jam. Padahal jika itu di manfaatkan untuk membaca selebihnya menulis akan lebih bermanfaat.

Selanjutnya di dalam media televisi ( Audio-Visual) mereka dicekoki dengan tontonan yang kurang mendidik. Sejumlah berita pembunuhan, pemerkosaan, video porno, kourpsi pejabat Negara belum lagi iklan fashion atau gossip tentang artis yang “lebay” membuat virus modernisasi melanda proses berfikir.  Selanjutnya kedatangan komik, Novel (bahan bacaan) “popular” yang di filmkan lebih mereka hafal daripada tokoh-tokoh mitologi atau sejarah tentang nenek moyangnya. Dengan demikian secara otomatis mereka akan abai terhadap bahan bacaan teruatama kesusastraan, apalagi harus membaca karya sastra yang begitu “berat”.

Di sisi lain, apa yang ditanyakan sastrawan dan budyawan Ajip Rosidi dapat kita amini, permasalahan di Indonesia apakah masih ada yang menganggap sastra itu penting termasuk Kementrian Pendidikan dan para pejabat Negara? Selain dari pada penggiat sastra; sastrawan atau budayawan yang memang, membaca, mengkaji, menulis karya sastra serta sejumlah apresiator sastra (komunitas sastra) hanya mereka yang masih bertahan dan memperjuangkan karya-karya sastra terus bertahan sampai akhir hayat.

Dari sisi inilah memang perkembangan pembelajaraan sastra seiring dengan bahasa, kebutuhan akan kebahasaan begitu pula pada bahasa Sunda (Lokal) maupun Indonesia (Nasioal). Semisal dalam pertumbuhan bahasa Indonesia yang dinamis tak terbendung menyebabkan karya sastra “ketinggalan zaman” sehingga siapa generasi muda yang akan membaca bahasa yang digunakan oleh Marah Rusli dalam Novel Siti Nurbaya atau karya Abdoel Moeis dalam Salah Asuhan? Kalau di Sunda siapa yang akan membaca karya Wawacan dan Hikayat serta Carita Parihiangan.

Dengan demikian nampaknya harus ada penyederhanaan atau membuat edisi-pelajar sastra klasik agar remaja (pelajar) dapat menikmatinya. ( Ajip Rosidi; 2011).

Seperti halnya di Negara maju, sastra nasional dan lokalnya sudah di perkenalkan sejak usia dini. Orang- orang inggris membuat edisi-pelajar dari karya William Shaksper, Charles Dickens, Oscar Wilde, di Spanyol Don Quite dan lain-lain. Bahkan dibuatkan gambar agar sejak kecil mulai di akrabkan dengan karya nasional maupun lokalnya.

Setelah itu, sebelum menginjak sekolah, mereka sejak dini di biasakan bermain-main dengan ficture books yang berdasarkan dongeng-dongeng warisan sejarah nenek moyang sehingga mereka mengenal tokoh mitologinya. Dalam buku-buku tersebut anak-anak diakrabkan dengan gambarnya, namun teks-nya di sederhakan (di buat sedikit). Dengan demikian ketika mereka menginjak sekolah teks-nya kian banyak dan pada tingkat selanjutnya (remaja) mereka harus membaca teks sastra yang lengkap dan penting. (Sastra Itu “berat”: Ajip Rosidi).

Akan tetapi, dalam mengakrabkan sastra kepada remaja bukan perkara yang mudah. Ini tentunya harus melibatkan semua pihak yang memang sadar akan pentingnya karya-karya sastra. Dari mulai pengajar sastra di sekolah, orang tua sampai kebijakan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk “memanusiakan manusia”. Atau benar apa yang di dengungkan oleh seorang Filsuf karl Marx, bahwa ketika suatu bangsa jikalau tidak tersejahterakan ekonominya tidak akan dapat menikmati sastra dengan seksama. Semoga harapan kita sama!

 

Resensi Buku

Posted: June 6, 2011 in Sastra

Resensi Buku

Data Buku

Judul : Sajak Dongeng Si Ujang

Antologi Puisi Godi Suwarna

Penerjemah : Iip D. Yahya

Penerbit : Rumah Baca Buku Sunda

Tebal Halaman : 77 Halaman

Cetakan Pertama : Mei 2011

ISBN : 978-602-97183-4-8

Anak-Anak Godi

Oleh Pungkit Wijaya*

DALAM jagat sastra Sunda siapa yang tidak mengenal Godi Suwarna? Dalam genre sajak dia menjadi salah satu pilar sastra Sunda. Selain itu ia menjadi panutan bagi generasi muda yang ingin belajar sajak atau ingin memublikasikanya di media cetak Sunda. Oleh karenanya sebagaimana diungkapkan  Iip D. Yahya, pengamat kebudayaan Rumah Baca Buku Sunda mengatakan bahwa banyak sebutan yang dialamatkan kepada Godi. Ada yang menyebutnya sang Adipati Galuh, Puun ti Kawaii, Kuncen Sumur Cipanganten, Penyair Sunda Terakhir, atau juga  Prabu Purili. Dalam jejaring sosial facebook pun, ia menjuluki dirinya sebagai Prabu Siritwangi yang sesekali memberikan semacam “wangsit” bagi para penggemarnya.

Dengan demikian, sebenarnya tidak ada yang meragukan “makom” kepenyairan Godi Suwarna. Selain penyair, ia adalah cerpenis, dramawan dan novelis. Dari kebergiatannya itulah  ia mendapatkan hadiah Sastra Rancage, LBSS dan sejumlah penghargaan lainya. Ia pun telah memiliki buku kumpulan sajak dalam bahasa Sunda yaitu, Jagat Alit (1978), Surat-Surat Kaliwat (1984) Blues kere lauk( 1994), Sajak Dongeng Si Ujang (1996) dan Jiwalupat; kumpulan cerpen Murang Maring (1982) Serat Sawarsatwa (1995); serta dua novel berjudul Sandekala (2007) dan Deng (2009).

Namun ada hal yang mungkin berbeda, seperti dalam antologi Sajak Dongeng Si Ujang yang baru-baru  ini diterbitkan dalam dwibahasa atau bilinguall oleh Rumah Baca Buku Sunda. Dalam khazanah sastra Sunda tentunya ini bisa disebut eksperimental. Mengapa demikian? Pasalnya ini baru pertama kali satu antologi sajak yang utuh dari seorang penyair Sunda. Tentunya ada hal signifikan yang dapat dirasakan dengan “medal”nya antologi ini. Dengan demikian publik  di Indonesia dapat  menohok, menikmati, dan selebihnya dapat memahami lebih lanjut perkembangan sastra Sunda. Atau bisa di sebut sebagai “lawang panto” untuk memasuki rumah.

Adapun dalam wilayah terjemahan, ada sebagian sastra Sunda yang diterjemahkan dalam genre sajak yaitu Puisi Sunda Modern: antologi dalam dua bahasa (1974) disusun Adun Sjubarsa. Puisi Sunda selepas perang dunia kedua. Iyo Mulyono, dkk (1979), lalu penerjemahan diprakarsai oleh Ajip Rosidi pada tahun 2001 penerjemahan puisi Sunda modern ke dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis : Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa ; Modern Sundanese Peotry:  Voice From West Java; dan Poemes Soundanais: Anthologie Bilingue.

Di sisi lain, pada perkembangannya, teks terjemahan bukan suatu teks asli, melainkan sebuah peranti untuk mengakses teks asli itu. Oleh karenanya terjemahan bisa diamini sebagai jembatan yang melenggang antara dua kebudayaan yang berbeda, tidak mengenal atau sudah mengenal lebih dalam.

Berangakat dari asumsi tersebut maka tidaklah salah bagi penerjemah Iip D. Yahya untuk menerjemahkan sajak Godi Suwarna. Dengan proses yang begitu lama sekitar sebelas tahun “mengendap”, tentunya bukan perkara yang mudah. Ada beberapa hal yang harus dipetimbangkan tentunya.

Ada sebagian pakar yang mengatakan bahwa karya sasta sebagai dokumen sosial, terutama dalam sajak. Uniknya ada beberapa argument mengatakan seperti kalau mau melihat sejarah suatau masyarakat maka bisa dilihat karya sastranya. Memang potret sosial setidaknya terekam oleh si penyair dari mulai kondisi sosial, politik, ekonomi dan lain-lain.

Di sisi lain juga, prolog yang diberikan Bambang Q-Anees menyebutkan dalam kumpulan Sajak Dongeng Si Ujang bahwa Godi menampilkan bahasa permainan kanak-kanak untuk kritik sosial. Sajak yang  menggunakan medium bahasa tentunya dapat memunculkan berbagai ungkapan. Namun ada yang lebih unik yaitu ungkapan Godi memakai bahasa kanak-kanak.

Dengan pemakaian bahasa kanak-kanak ada kesederhanaan yang dapat di baca, pemilihan kata seperti kata emam (makan) bobo (tidur), eueut (minum) ameng (main). Oleh karena itu dalam epilog buku ini Neneng Yanti, berujar dengan bahasa ucap kata-kata yang sederhana membuat kata seperti mudah dipahami.

Oleh karenanya kesedernahaan akan memunculkan nilai pfositif. Dengan itu tidak menutup kemungkinan dengan antologi Sajak Dongeng Si Ujang ini tentunya dapat mengakrabkan sastra kepada anak. Namun pada aspek kognitif untuk memasuki rumah tersebut dapat melihat, mengenal dan memahami, tiada salahnya untuk terlebih dahulu mengenal anak-anak Godi.

*eksponen Komunitas Sasaka UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sajak

Posted: April 19, 2011 in sajak

Pungkit Wijaya

LAUT PENGHABISAN

               -Kapten J.H Lindeman

Lelehan kabut melengkapkan cuaca
Sepanjang garis usia, laut yang lena
Anyer yang kelam Read the rest of this entry »

Catatan Tangan

Posted: March 28, 2011 in Sastra

Identitas

Oleh Pungkit Wijaya

Pada suatu hari di pameran lukisan, Saya melihat drawing karya seseorang yang tentu saja saya kenal orangnya. Saya melihat drwaing tersebut, sebuah patung liberti berwarna hitam dan biru, tetapi tidak seperti laiknya liberti yang sebenarnya, pelukis tersebut mengganti obor yang di usung tangan kanannya oleh sebuah pot bunga. Mula-mula saya jadi ingin tertawa melihat karya tersebut sambil bertanya,

“kenapa ya, ko obornya di ganti oleh pot bunga”. Read the rest of this entry »

Oleh : Pungkit Wijaya* 

Semua bermula dari Twitter dan dengan semakin banyaknya pengikut, saya memutuskan untuk menyebarkan pesan lebih luas dan membantu memberdayakan serta menjembatani kaum perempuan yang selama ini terkungkung,” –Regina King–. 

Beberapa pekan lalu, tepatnya pada laporan bertajuk women on the web : How women are Shaping teh Internet, comScore memaparkan analisa mendalam terhadap pengguna Internet perempuan. termasuk menyoroti tren aktivitas internet, skala global dan channel digital. Read the rest of this entry »

Lokalitas Bahasa

Posted: March 28, 2011 in Sastra

Oleh : Pungkit Wijaya*

Pada hakikatnya, kebudayaan nasional adalah satu kesatuan yang dibangun oleh kebudayaan lokal, begitu juga sebaliknya.  Saling mengisi satu sama lain- simbiosis mutualisme dalam pola kehidupan masyarakat Indonesia. Namun kini budaya lokal harus ditumbuhkan agar menjadi pijakan masyarakat daerah tertentu, dalam arti “teu pareumeun obor”. Read the rest of this entry »