Oleh Pungkit Wijaya*
DALAM sebuah kesempatan saya harus melakukan penelitian ke sekolah menengah atas di daerah kota Bandung. Sejauh mana pemahaman serta interpretasi remaja sekolah menengah atas memahami puisi seorang penyair Amerika, Emily Dickinsion. Dan alhasil mereka pun kurang mengerti untuk membaca puisi tersebut. Meskipun berlandaskan dari tugas mata kuliah poetry (puisi) dari seorang dosen, bagi saya penelitian tersebut sangat berharga dan bermanfaat.
Maka dari itu setelah saya menyimpulkan sedikit. Setelah saya mengajukan questioener tentang kesukaan mereka terhadap puisi dan umumnya sastra (Cerpen, Drama dan Novel) tentang karya-karya sastra baik lokal, nasional maupun internasional. memang mereka kurang menyukai dan berminat terhadap karya sastra baik puisi, cerpen, drama dan Novel yang “berat” apalagi yang berbahasa inggris, di sebabkan kurangnya pengenalan dan bahan bacaan untuk karya-karya sastra.
Oleh karena itu saya sebagai mahasiswa sastra merasa miris melihat keadaan seperti itu. Dalam benak saya coba bertanya-tanya, kenapa keterbelakangan terhadap kesusastraan melanda remaja? Jikalau ada pendapat sastra memanusiakan manusia saya akan sepakat, namun jikalau keadaan seperti itu seakan mendesak bahwa harus mulai diperkenalkan kepada remaja. Dengan demikian image sastra itu “berat” sedikit-sedikit akan terkikis, bila hal ini diakrabkan sejak dini, teruatama pada anak dan remaja sekolah.
Konon sebagian orang menyebut sastra sebagai anak tiri- dalam artian selalu terpinggirkan. Semisal jurusan sastra di universitas hanya menjadi “Menara Gading” dan kurang peminat, lalu mereka suka mendengungkan apa sumbangsih sastra terhadapa masyarakat tentunya terhadap bangsa. Inilah selama ini yang tentu belum semua orang pahami terkait pentingnya membaca karya-kayra sastra, aspek kegunaan karya sastra khususnya di masyarakat umumnya untuk bangsa Negara.
Namun selain itu, ketika paradigma populeristik, konsumeristik dan globalisasi memang melanda masyarakat kita. Budaya instan pun terkadang tidak di sikapi secara kritis, kedatangan akses yang melimpah, informasi yang tumpah ruah tetap saja belum menuju arah yang significant.
Semisal kemunculan internet yang memanjakan remaja hanya membuat mereka “autis”. bukan membuat proses bahan bacaan menjadi bertambah, malah kemalasan yang terjadi karena libido kecanduan. Dalam permainan game oneline atau hanya membuka facebook berjam-jam. Padahal jika itu di manfaatkan untuk membaca selebihnya menulis akan lebih bermanfaat.
Selanjutnya di dalam media televisi ( Audio-Visual) mereka dicekoki dengan tontonan yang kurang mendidik. Sejumlah berita pembunuhan, pemerkosaan, video porno, kourpsi pejabat Negara belum lagi iklan fashion atau gossip tentang artis yang “lebay” membuat virus modernisasi melanda proses berfikir. Selanjutnya kedatangan komik, Novel (bahan bacaan) “popular” yang di filmkan lebih mereka hafal daripada tokoh-tokoh mitologi atau sejarah tentang nenek moyangnya. Dengan demikian secara otomatis mereka akan abai terhadap bahan bacaan teruatama kesusastraan, apalagi harus membaca karya sastra yang begitu “berat”.
Di sisi lain, apa yang ditanyakan sastrawan dan budyawan Ajip Rosidi dapat kita amini, permasalahan di Indonesia apakah masih ada yang menganggap sastra itu penting termasuk Kementrian Pendidikan dan para pejabat Negara? Selain dari pada penggiat sastra; sastrawan atau budayawan yang memang, membaca, mengkaji, menulis karya sastra serta sejumlah apresiator sastra (komunitas sastra) hanya mereka yang masih bertahan dan memperjuangkan karya-karya sastra terus bertahan sampai akhir hayat.
Dari sisi inilah memang perkembangan pembelajaraan sastra seiring dengan bahasa, kebutuhan akan kebahasaan begitu pula pada bahasa Sunda (Lokal) maupun Indonesia (Nasioal). Semisal dalam pertumbuhan bahasa Indonesia yang dinamis tak terbendung menyebabkan karya sastra “ketinggalan zaman” sehingga siapa generasi muda yang akan membaca bahasa yang digunakan oleh Marah Rusli dalam Novel Siti Nurbaya atau karya Abdoel Moeis dalam Salah Asuhan? Kalau di Sunda siapa yang akan membaca karya Wawacan dan Hikayat serta Carita Parihiangan.
Dengan demikian nampaknya harus ada penyederhanaan atau membuat edisi-pelajar sastra klasik agar remaja (pelajar) dapat menikmatinya. ( Ajip Rosidi; 2011).
Seperti halnya di Negara maju, sastra nasional dan lokalnya sudah di perkenalkan sejak usia dini. Orang- orang inggris membuat edisi-pelajar dari karya William Shaksper, Charles Dickens, Oscar Wilde, di Spanyol Don Quite dan lain-lain. Bahkan dibuatkan gambar agar sejak kecil mulai di akrabkan dengan karya nasional maupun lokalnya.
Setelah itu, sebelum menginjak sekolah, mereka sejak dini di biasakan bermain-main dengan ficture books yang berdasarkan dongeng-dongeng warisan sejarah nenek moyang sehingga mereka mengenal tokoh mitologinya. Dalam buku-buku tersebut anak-anak diakrabkan dengan gambarnya, namun teks-nya di sederhakan (di buat sedikit). Dengan demikian ketika mereka menginjak sekolah teks-nya kian banyak dan pada tingkat selanjutnya (remaja) mereka harus membaca teks sastra yang lengkap dan penting. (Sastra Itu “berat”: Ajip Rosidi).
Akan tetapi, dalam mengakrabkan sastra kepada remaja bukan perkara yang mudah. Ini tentunya harus melibatkan semua pihak yang memang sadar akan pentingnya karya-karya sastra. Dari mulai pengajar sastra di sekolah, orang tua sampai kebijakan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk “memanusiakan manusia”. Atau benar apa yang di dengungkan oleh seorang Filsuf karl Marx, bahwa ketika suatu bangsa jikalau tidak tersejahterakan ekonominya tidak akan dapat menikmati sastra dengan seksama. Semoga harapan kita sama!